Novel Sejarah

 

Rangkaian Kisah Hidupku

Karya : Alfa Shalom P.G / Kelas XII MIPA

SMA Virgo Fidelis Bawen

 

            Namaku Alfa Shalom Putri Gunanto yang mempunyai arti anak pertama yang membawa damai sukacita. Aku biasa dipanggil Shasa, tapi ada juga yang memanggilku Alfa, aku tidak masalah selagi itu namaku sendiri. Aku lahir tepat pada hari Selasa pukul 22.15 malam yang jatuh pada tanggal 12 November 2002. Aku merupakan anak pertama dari tiga bersaudara yaitu dua adik perempuan. Ayahku dulu bekerja di kantor yang berada di Salatiga namun sekarang sudah berhenti bekerja disana dan sekarang bekerja sebagai Gojek Online. Ibuku dulu juga bekerja di sebuah pabrik dekat dengan rumahku namun sekarang sudah pindah bekerja di Rumah Sakit. Sekarang aku bersekolah di SMA Virgo Fidelis Bawen yang sudah memasuki kelas tingkat paling atas yaitu kelas 12. Pasti banyak yang bertanya-tanya mengapa aku masih kelas 12, kebanyakan kelas 12 adalah kelahiran tahun 2003. Itu karena aku terlambat masuk ke Taman Kanak-Kanak. Banyak sekali rangkaian kisah hidupku, ada yang suka dan ada yang duka. Semua sudah aku lewati hingga saat ini. Aku akan menceritakan awal aku mulai bersekolah hingga saat ini.

            Pada tahun 2006, aku masuk ke Play Group di Kanaan Nusantara Ungaran. Seharusnya aku bisa saja langsung masuk Taman Kanak-Kanak, namun ibu dan ayahku yang menghendaki aku supaya masuk ke Play Group dahulu. Dulu aku adalah anak yang sangat pendiam dan pemalu. Selain itu aku juga termasuk anak yang penakut. Singkat cerita, dulu aku diantar dan ditunggu ketika sekolah oleh pengasuhku. Aku tidak mau ditinggal oleh pengasuhku selama pembelajaran berlangsung. Sampai-sampai dulu ketika pembelajaran sudah dimulai, aku menyuruh pengasuhku untuk tetap berada di depan pintu kelas. Dulu aku benar-benar takut ditinggal sendirian di sekolah.

            Tahun 2007 aku naik tingkat, memasuki Taman Kanak-Kanak. Aku dulu tidak mudah bergaul, teman terdekat bisa dihitung menggunakan jari. Namun ada satu teman yang sudah sangat dekat denganku, kami selalu bermain bersama dari jaman di bangku kanak-kanak sampai sekolah menengah. Kita selalu menghabiskan waktu bersama karena rumah kita yang hanya beda gang saja. Sampai ada orang yang bilang kita seperti pinang di belah dua, karena dulu banyak sekali barang ataupun pernak-pernik yang sama.

Namun ada hal yang menarik dalam pertemanan kita, yaitu panggilan “mbak”. Memang dia lebih muda 3 bulan dari aku, tetapi kita sudah terbiasa selalu memanggil dengan kata “mbak” sebelum menyebutkan nama kita masing-masing. Sangat lucu, bahkan teman sekolah menengah sampai dibuat bertanya-tanya mengapa memanggil dengan kata “mbak” padahal jarak umur kita tidak terlalu jauh. Terkadang sampai sekarang pun masih memanggil dengan sebutan seperti itu tetapi kadang-kadang juga hanya memanggil dengan nama saja.

Tidak menyangka sekali, di masa sekolahku yang terbilang masih awal sudah mendapat teman dekat walaupun hanya satu. Dulu sebelum masuk sekolah, aku sudah berpikir pasti tidak akan mendapat banyak teman karena aku anaknya pendiam dan sulit bergaul. Namun ternyata pikiranku salah, di sini aku mendapat banyak teman termasuk teman dekatku tadi. Bahkan aku masih sedikit mengingat nama-nama mereka karena dulu kami sangat dekat.

            Setelah tamat dari Taman Kanak-Kanak pada tahun 2009, aku mulai duduk di bangku Sekolah Dasar. Terletak tidak jauh dengan Kanaan Nusantara, aku melanjutkan belajarku di SD Mardi Rahayu Ungaran. Aku berpikir kalau akan berpisah dengan teman dekatku tadi, ternyata dugaanku salah. Kita kembali satu sekolah, namun sayangnya kita beda kelas. Dia berada dikelas A sedangkan aku dikelas C. Di sini aku mulai percaya diri, mulai bisa bergaul dengan mudah dan sifat penakutku sudah sedikit menghilang.

Teman-teman yang berada di Sekolah Dasar sangat bermacam-macam sifatnya. Dulu, aku selalu di ganggu dengan teman sekelasku yang sangat terkenal nakalnya. Ada 3 orang laki-laki dan banyak yang menyebut mereka “trio usil” karena sering membuat guru merasa jengkel dengan mereka. Tidak hanya aku saja yang diganggu, hampir semua anak perempuan dikelasku sudah pernah diganggu dengan mereka. Ada beberapa hal yang sangat berkesan disini, salah satunya saat ada imunisasi. Hal yang sangat ditakuti untuk anak di umur saat itu, maka tidak heran teman-temanku sangat takut dan bahkan ada yang membolos sekolah demi menghindar dari imunisasi. Pernah saat itu salah satu temanku tidak mau di imunisasi, akhirnya dia menangis dan berusaha kabur. Lalu akhirnya terjadilah tarik-menarik antara guru dan temanku itu.

Ada hal lain yang paling berkesan yaitu saat sekolahku mengadakan acara Open House. Aku dan teman-temanku kebagian tugas untuk menjual balon dan menawarkan pada anak-anak yang masih kecil karena acara tersebut sangat terbuka untuk siswa SMP Mardi Rahayu dan TK Theresiana yang ingin menikmati acara Open House. Jadi sekolahku dulu satu lingkungan ada TK, SD dan SMP dan tak heran jika sangat ramai ketika salah satu diantaranya mengadakan suatu acara.

            Tidak terasa enam tahun sudah berlalu, masa-masa Sekolah Dasar terasa begitu cepat seperti hanya angin yang lewat. Berpuluh-puluh kenangan dan kisah sudah dirangkai saatnya melanjutkan menuju jenjang yang lebih tinggi. Tidak terasa, waktu berputar begitu cepat seakan-akan tidak memberi jeda. Tahun 2015 aku lulus dari bangku Sekolah Dasar, tangisan kebahagiaan dan perpisahan dapat dirasakan saat itu. Tdak henti-hentinya kami mengucapkan terima kasih pada guru kami yang sudah mengajar selama 6 tahun.

            Pada tahun 2015 aku sudah berhasil menyelesaikan pendidikanku di Sekolah Dasar, tiba saatnya aku memilih untuk melanjutkan dimana. Ibu dan ayahku menyarankanku untuk melanjutkan ke SMP Mardi Rahayu saja karena tetangga sudah ada yang lulusan disana dan dia berkata sekolahnya sangat bagus.

“Kamu lanjut di Mardi Rahayu lagi saja Sha, kan sudah betah dan terbiasa di lingkungan sana.” Kata ibuku pada saat aku, ibu dan ayahku membicarakan akan lanjut dimana.

“Iya, ayah juga setuju. Nanti banyak teman SD mu yang juga sekolah disitu.” Kata ayahku yang menyetujui perndapat ibuku. Aku sedikit berpikir, apakah aku harus setuju juga atau tidak. Setelah beberapa menit berpikir akhirnya aku menyetujuinya juga

“Iya aku akan bersekolah di sana. Lagi pula benar kata ibu kalau aku sudah terbiasa di lingkungan sana.”

            Akhirnya hari pertama masuk Sekolah Menengah Pertama tiba. Benar kata ayahku jika banyak teman SD ku yang bersekolah di SMP Mardi Rahayu. Di sini aku tidak memikirkan bagaimana cara mendapat teman lagi karena hampir semua orang yang bersekolah disitu adalah temanku SD. Jadi aku tidak kesulitan untuk beradaptasi lagi. Saat kelas 7 SMP aku sudah mengalami perubahan, yang dulunya tidak banyak berbicara menjadi lebih sering mengajak berbicara terlebih dahulu. Disini juga aku mengalami suatu kejadian yang sangat berkesan dan tidak aku lupakan sampai saat ini. Di kelas 7 juga aku menjadi 10 besar dalam kelas. Suatu ketika saat penilaian tengah semester aku berlomba-lomba nilai dengan teman sekelasku, sangat menantang sekali pada saat itu.

             Satu tahun berlalu, aku naik kelas 8 SMP pada tahun 2016. Yang sedikit mengejutkan adalah pengacakan kelas, karena pada saat itu aku mengira kelasnya akan sama sampai nanti lulus ternyata tidak. Aku terpisah dengan teman dekatku, padahal kita sudah nyaman satu dengan yang lainnya. Aku harus bisa beradaptasi lagi dengan teman baru lagi karena ada yang belum bahkan tidak pernah bertegur sapa saat kelas 7. Di kelas 8 ini aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Sampai saat ini aku masih sedikit trauma dengan kejadian itu, aku menjadi seorang yang sedikit memikirkan apa yang orang ucapkan. Bahkan aku dulu sempat tidak ada semangat sekolah karena suatu hal. Aku mengakui lebih nyaman dengan teman-teman saat kelas 7 dibandingkan kelas 8.

Di kelas 8 aku benar-benar diuji kesabaran ku dan kekuatanku menghadapi semua. Aku berpikir jika besok naik kelas 9 tidak akan bertemu orang-orang itu lagi walaupun mereka adalah teman sekelasku sendiri tetapi aku sedikit tidak menyukai sifatnya. Kejadian itu benar-benar diluar dugaanku, tidak pernah aku alami sebelumnya. Lambat laun semua sudah berakhir dan aku bisa sedikit bernafas lega.

            Pada tahun 2017, aku dinyatakan naik ke kelas 9. Ini adalah hal yang paling aku nantikan karena ingin segera keluar dari lubang yang gelap. Aku berharap supaya tidak bertemu dengan orang-orang itu lagi. Tiba saatnya pengumuman pembagian kelas, aku segera melihat kertas daftar nama siswa yang ditempel di depan pintu. Aku mulai membaca satu persatu nama, akhirnya doa ku terkabulkan. Aku tidak bertemu dengan mereka lagi, setidaknya bisa bernafas lega.

Di kelas 9 ini aku mengalami masalah lagi. Dulu aku dan teman-temanku membentuk sebuah kelompok pertemanan atau bahasa gaulnya “Geng” . Dalam kelompokku ini berjumlah 13 orang perempuan dan ada anak laki-laki sekitar 3 sampai 6 orang. Disini kelompokku tidak disukai oleh kelompok lain alias “Geng” yang lain. Mereka juga membentuk kelompok yang terdiri dari 12 orang perempuan. Singkat cerita salah satu teman dari geng mereka berbeda kelas dengan teman sekelompoknya. Kebetulan teman sekelompoknya sekelas denganku sebagian dan dia sekelas dengan teman sekelompokku di kelas lain.

Suatu ketika dia mengalami masalah dikelasnya. Dia berkata jika tidak ada yang mau berteman dengannya dikelas karena teman sekelompoknya sebagian ada dikelasku. Dan disinilah terjadi sedikit perselisihan dan berujung masuk ke ruang Bimbingan Konseling. Masalah berhasil diselesaikan dan akhirnya dia dipindahkan dikelasku. Aku dan teman sekelompokku yang berada di kelas bersamaku harus menerima dia berada di kelas ini.

Akhirnya setelah kejadian-kejadian terlewati kini tiba saatnya menghadapi Ujian Nasional untuk menentukan kelulusan. Semua terasa cepat berlalu hingga terasa seperti tiba-tiba akan menghadapi Ujian Nasional. Rasanya seperti baru saja masuk ke nuansa putih biru akan tetapi sebentar lagi akan merasakan nuansa putih abu-abu, benar-benar terasa begitu cepat bagaikan roda yang beputar kencang. Semua sedang berjuang keras untuk mendapatkan hasil yang memuaskan supaya dapat lulus dengan nilai terbaik dan masuk ke sekolah yang di impikan.

Tahun 2018 aku dinyatakan lulus dan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi di SMA Virgp Fidelis Bawen. Ayah dan ibuku yang menyarankan aku bersekolah disitu, awalnya aku ingin bersekolah di yang dekat saja dengan rumah tapi kata ibuku menambah pengalaman juga bersekolah di tempat yang lumayan jauh dengan rumah. Akhirnya aku menyetujui saja dan akhirnya aku bersekolah disana.

Hari pertama bersekolah di SMA Virgo Fidelis, aku masih terasa asing karena tidak ada teman perempuan yang dulunya satu sekolah ketika SMP. Aku harus bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Aku awalnya ingin masuk ke jurusan IPS namun Tuhan memiliki kehendak yang lain dan akhirnya aku di tempatkan di jurusan IPA. Aku menceritakan pada ibu dan ayahku, mereka terlihat senang ketika aku masuk jurusan IPA. Awalnya aku sedikit sedih karena tidak masuk jurusan IPS, namun melihat ibu dan ayahku yang sangat senang mendengar aku diterima di jurusan IPA, seketika rasa sedihku aku buang jauh-jauh.

Di kelas 10 ini aku mengikuti ekstrakulikuler Paskibra. Dulu aku sempat tidak berpikir bisa masuk ke dalam bagian ini. Itu bermula ketika masa orientasi saat sesi baris berbaris, aku secara tiba-tiba dipilih oleh guru untuk masuk ke ekstrakulikuler Paskibra. Aku tidak menyangka bisa masuk ekstra ini, padahal sebelumnya aku tidak pernah mengikuti ekstra Paskibra saat SMP. Sangat bersyukur bisa terpilih dalam ekstrakulikuler tersebut.

Tahun 2019 aku naik ke kelas 11, semua aku jalani dengan baik-baik saja. Namun saat bulan Maret 2020 Indonesia  dilandai virus Covid-19 yang membuat semua siswa mengharuskan belajar di rumah menggunakan telepon genggam. Saat pandemi tersebut, aku sedikit kesulitan dalam masalah fasilitas seperti laptop dan telepon genggam. Laptop sudah dijual dan telepon genggam yang aku miliki tidak memiliki kapasitas memori yang banyak. Akhirnya aku harus meminjam telepon genggam ayah dan ibuku ketika ada tugas. Semua sudah ku atasi dengan baik hingga saat kenaikan kelas ada mujizat yang tidak terduga. Aku diberi kan rejeki untuk membeli telepon genggam yang baru karena yang lama sudah tidak memungkinkan untuk digunakan saat pembelajaran. Aku sangat bersyukur masih bisa diberi rejeki disaat seperti ini, tidak sia-sia jika mau berdoa dan berusaha suatu saat nanti akan menuai yang baik pula.

            Hingga sekarang tiba tahun ketiga aku bersekolah di SMA Virgo Fidelis. Ini adalah saat-saat yang paling penting karena ujian-ujian dan kelulusan sudah semakin dekat. Kita harus sudah menentukan universitas, tempat kita akan mewujudkan cita-cita kita. Sudah sangat dekat dan semakin dekat dengan dunia luar. Aku sudah harus mempersiapkan diri untuk menghadapi masa depan yang sudah semakin dekat.

            Dari kecil sudah menuntut ilmu hingga sekarang ini, harus bisa membuahkan hasil yang membanggakan. Apapun yang akan aku hadapi besok adalah langkah awal ku untuk mencapai sebuah kesuksesan. Tidak ada yang mustahil jika mau berusaha dan tetap mengandalkan Tuhan. Dari kecil aku sudah memiliki keinginan yang ingin aku wujudkan jika besar nanti dan ini saatnya aku untuk mewujudkan.

            Semua keluarga sudah memberiku sebuah solusi ketika aku lulus nanti, harus berkuliah dimana dan beberapa tujuan yang harus di capai ketika sudah memasuki dunia perkuliahan. Liburan kenaikan kelas kemarin, aku sempat mengobrol banyak dengan om ku. Kami membicarakan rencana jika aku sudah lulus nanti. Semua harus dirancang mulai sekarang, begitu kata om ku.

            Dari pembicaraan yang sudah aku lakukan dengan om ku, aku bisa menangkap banyak hal. Aku di beri nasihat dan pesan-pesan yang bisa memberi ku inspirasi. Semua yang om ku katakan akan aku serap di otakku. Semuanya berharap berjalan dengan sempurna dan tidak ada halangan. Aku akan membuat bangga kedua orang tua ku dengan apa yang aku dapatkan. Maka masa-masa SMA kelas 3 ini adalah hal yang paling berharga. Jika terlewat satu langkah saja itu berarti sudah menghilangkan satu kunci menuju kesuksesan.

            Jadi, jangan pernah menyiakan-nyiakan waktu, hari dan bulan yang akan dilewati. Karena semua bagaikan roda yang terus-menerus berputar. Semua yang kita impikan akan terwujud sesuai apa yang kita harapkan jika kita mau berusaha. Aku akan terus berusaha semampuku sampai semuanya bisa tercapai. 

            Saat kelas 3 SMA ini aku merasa sedikit takut. Takut akan masa depan yang akan aku hadapi ke depannya, takut jika tidak bisa sukses seperti orang lain dan tidak bisa membanggakan orang tua. Maka mulai saat ini, aku akan lebih serius ketika belajar dan mengurangi hal-hal yang tidak berguna seperti bermain telepon genggam. Aku sangat senang bermain benda elektronik tersebut, maka dari itu aku ingin mengurangi kebiasaan itu.

Komentar